Jumat, 16 Januari 2009

Ibnu Rusyd "Keazalian Alam dan Tuhan"(chapter 1)

KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN

(PEMIKIRAN IBNU RUSYD DALAM RENTANG SEJARAH)


“Berkat kecerdasan dan kecermerlangan pikirannya, Ibnu Rusyd merambah belantara cabang ilmu pengetahuan, Filsafat dan Agama. Keseluruhan petualangannya sangat mengandalkan daya cerna rasional atas apa pun serta mengesampingkan emosi dan perasaan sentimen. Alih-alih perjalanan seorang tokoh besar, justru kebesaran dan kejeniusannya malah membuat resah para ulama fikih yang tidak senang dengan pendapat-pendapatnya, bahkan dia dituduh sebagai penyebar ajaran filsafat yang menyimpang dari ajaran Agama Islam. Dia dikenal sebagai penentang ajaran Agama Islam dengan tudingan ‘manusia zindik’ (lahirnya Islam sementara batinnya kafir).Tidak hanya sebatas dituduh sebagai pengajar ajaran sesat saja, Beliau juga diasingkan di Lucena dan karya-karya yang sudah dipublikasikan pun di bakar dan secara resmi diumumkan haram belajar Ilmu Filsafat. Sejak saat itulah, Filsafat tidak mendapat tempat di dunia Islam karena kebebasan berpikir ‘dipasung’ dengan dalih agama”

1. Riwayat Hidup dan Karya-Karya Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd dilahirkan pada tahun 520 H atau tahun 1126 Masehi, di kota Cordova, Andalusia, wilayah Islam di ujung Barat Benua Afrika. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad Ibnu Rusyd. Di Barat Beliau lebih dikenal dengan nama Averoes. Ia berasal dari sebuah keluarga terhormat, baik di wilayah kesarjanaan maupun kenegaraan. Di wilayah kesarjanaan, keluargannya telah menyumbangkan sarjana-sarjanaTeologi dan Ilmu Hukum bagi kaum muslimin Spanyol.Sementara di wilayah kenegaraan, Kakek dan ayahnya pernah menduduki jabatan sebagai hakim agung. Beliau sendiri juga pernah menduduki jabatan sebagai hakim di Sevilla dan hakim agung di Cordova.

Sejak kecil Beliau telah mempelajari Al-Qur’an, ilmu-ilmu keislaman (tafsir, hadis, fikih, dansastra Arab). Kemudian Beliau juga mendalami Matematika, Fisika, Astronomi, Logika, Filsafat, Ilmu Kedokteran , sejarah, dan juga Ilmu Sastra. Beliau adalah komentator dan kritikus ulung dan namanya melambung tinggi justru karena uraian-uraiannya tentang filsuf-filsuf pendahulu, terutama Aristoteles. Kritik dan komentarnya tentang Filsafat Aristoteles inilah yang membuat Beliau termasyur di Eropa, sehingga Eropa tidak segan-segan mengakui bahwa Ibnu Rusyd adalah komentator besar atas karya Aristoteles sebagai guru besarnya.

Selama pergulatannya dengan Filsafat dan berbagai ilmu empiris lainnya, Ibnu Rusyd sangat merangsang banyak pemikir dunia terutama dalam ranah Filsafat. Beberapa karyanya dapat kita sebut, sbb: Mabadi-ul-Falasifah (Pengantar Ilmu Filsafat), Kashful-adilla (Buku Filsafat dan Agama), Tahafutu-t-Tahafut (Buku filsafat yang merupakan balasan atas serangan buku Al-Ghazali yang berjudul Tahafatul-Falasifah), Muwafagati-I-Hikmawati Wal Sharia (Persamaan Filsafat dan Agama), Qism Ur Rabi’min Warait Thabie’ah (Buku Metafisika), Fashl ul maqal (Buku Ilmu Teologi), Bidayat ul Muftahid wa Nihayat Urdjuza (Ilmu Pengobatan), Taslul (Ilmu Kalam).

Setelah dibebaskan oleh Kaisar Al- Mansyur dari pengasingannya di Lucena, Ibnu Rusyd kemudian pergi ke Maroko dan di tempat inilah Beliau menghabiskan sisa hidupnya hingga hembusan nafas terakhir pada tanggal 11 Desember 1198.

1.1 Kemasyuran Ibnu Rusyd dalam Dunia Filsafat

Terlepas ‘label negatif’ yang harus dia pikul karena kecemerlangan dan keradikalan pemikirannya, Ibnu Rusyd harus diakui sebagai pemikir Abad Pertengahan yang paling besar , mencengangkan dan mengguncangkan dunia, khususnya dunia Islam. Beliau adalah seorang filsuf Islam yang paling terkenal. Seorang putera andalus yang menjadi ‘perantara’ dan yang membawa cara berpikir dan akidah Timur di tengah kehidupan orang Barat.

Karena kecemerlanagan dan keradikalan pemikirannya, maka Beliau berhasilmenggondol nilai yang tinggi dalam pandangan orang Eropa, serentak memeteraikan namanya dalam deretan filsuf-filsuf Eropa. Karena keistimewaannya inilah, maka Philip K. Hitti mengatakan :

“last of the great Arabic writing philosophers, Ibnu Rushd produced no progeny is Islam. He belonged more to Christian Europe than to Muslem Asia or Africa. To the West he became “the commentator” as Aristotle was the teacher” (Philip K. Hitti, History of the Arab, New York, Princeton University Press, 1956,hlm.583).

Dari uraian di atas, Ibnu Rusyd sebenarnya merupakan seorang filuf Islam yang sangat mempengaruhi gema filsafat Eropa. Beliau seorang filsuf sklolastik Islam yang kecemerlangan pemikirannya lebih menampilkan raut pemikiran yang holistic, karena pemikirannya mengakomodasi setiap pemikiran, kemudian menggodoknya secara rasional, sistematis, metodis serta koheren. Harapannya tentu pemikiran-pemikiran baru yang akan lebih mampu menampilkan karakter realitas yang sebenarnya. Beliau betul-betul seorang pencari kebenaran sejati, yang tidak begitu saja sudi ‘terpaku-mati’ dalam keyakinan-keyakinan, doktrin dan dogma-dogma yang sudah diterima tanpa memperkarakannya oleh khalayak umum. Beliau seorang manusia biasa yang memiliki keberanian untuk menerjang semua keangkuhan dogmatis-teologis serta filosofis, sambil menebarkan semerbak harum nubuat profetis serta pesan-pesan keilmuan yang luas, tajam dan mendalam. Dari konteks ini juga, dapatlah kita memahami bahwa pemikiran Beliau sebenarnya buah dari petualangan perdebatan yang panjang. Tetapi, pencarian Beliau sudah barang tentu dilakukan dalam konteks pencariannya akan makna yang terdalam dari sesuatu yang Beliau imani.

1.1.1. Pengertian alam dan Tuhan Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd tidak pernah mendifinisikan apa itu alam dan Tuhan. Beliau hanya menampilkan karakter alam dan Tuhan serta relasi hakiki antara alam dan Tuhan itu sendiri. Alam dalam pemikiran Ibnu Rusy lebih cenderung dipahami sebagai segala sesuatu yang ada dengan segala proses yang menjadikannya serta yang menyertai segala sesuatu itu. Dapat dikatakan bahwa alam merupkan totalitas eksistensi dan potensi yang terpadu. Alam meliputi ruang, waktu, materi, perubahan, gerak, energi, kausalitas, serta keabadian.

Sebagai seorang yang berimankan Islam, sudah barang tentu Kitab Suci Al-Qur’an menjadi pijakan pemikirannya. Beliau merefleksikan apakah ada sesuatu yang telah ada sebelum dunia ini diciptakan dan dari bahan yang sudah ada itukah dunia ini diciptakan. Apakah waktu itu sudah dimulai dari hari pertama dari keenam hari ataukah waktu itu sudah ada sebelum Allah menciptakan alam semesta ini. Ajaran tradisional Islam mengklaim bahwa alam semesta ini diciptakan dari ketiadaan “creatio ex nihilo”. Hal ini terutama didasarkan pada ayat 7 dari Surat Hud yang berbunyi: “Wa hua-llazi khasqas samawati wal ardla fi Satttati ay yami wa kana arsyuhu ala ama” (Allah itulah yang menjadikan beberapa langit dan bumi dalam waktu enam hari, dan arasynya di atas air). Kutipan ini dapat dijadikan rujukan bahwa ada sesuatu sebelum penciptaan alam semesta ini berlangsung. Tetapi khalayak memahami bahwa air itu sendiri dulunya juga diciptakan oleh Tuhan (bdk. A.J. Arbery, The Koran Interpreted, Oxfort University Press, 1964. Lihat juga Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam Abad Pertengahan, Jakarta, Rajawali Pers, hal.35)

Tetapi berseberangan dengan pemikiran tradisional Islam, Ibnu Rusyd menurunkan gagasan alam semesta secara baru. Bahkan baginya, konsep “creatio ex nihilo” sama sekali tidak masuk akal. Tidaklah mungkin “tiada” dapat berubah menjadi “ada”. Yang terjadi “ada” berubah menjadi “ada yang lain”. Ibnu Rusyd susah membayangkan kalo sesuatu yang ada itu tidak bersifat azali, tanpa permulaan dan tiada berkesudahan. Beliau tidak terima pada saat kita merendahkan derajad Allah hanya sekedar pemain sulap. Kemudian, sapakah Tuhan menurut Ibnu Rusyd dan bagaimana relasinya dengan alam semesta?

Ibnu Rusyd lebih memahami segala sesuatu di alam ini disebabkan oleh Tuhan. Tuhan adalah ‘penyebab utama’ segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dikatakan Tuha sebagai penyebab karena segala sesuatu yang ada di alam ini memancar atau melimpah dari-Nya. Karenanya, segala sesuatu yang ada di alam ini harus dipahami sebagai “ada-bersama” Tuhan. Alam semesta dengan demikian azali, tanpa permulaan dan tiada berkesudahan, dan bukan dari “ketiadaan” kemudian menjadi “ada”. Hal ini mengisyaratkan bahwa Tuhan dan alam dari sisi durasi waktu sama-sama kekal. Tuhan adalah kekal dan alam semesta pun kekal adanya. Betapa sulit membayangkan matahari tanpa sinar matahari, demikian juga sulit membayangkan kekekalan Tuhan tanpa adanya kekekalan alam. Namun demikian, harus diakui bahwa kekekalan Tuhan berbeda dengan kekekalan alam semesta. Kekekalan Tuhan tanpa penyebab sedangkan kekekalan alam semesta mempunyai penyebab, yaitu Tuhan sendiri sebagai “Penyebab Pertama”.

Ibnu Rusyd tidak pernah membayangkan Tuhan sebagai Dia yang pasif, tetapi Dia yang aktif lantaran potensi kreatif yang Tuhan sertakan dalam alam semesta. Hakikat Tuhan menimbulkan gerak kendati Tuhan sendiri tidak bergerak. Gerak inilah yang menjadikan segala sesuatu di alam. Dari Tuhan tidak hanya memancar atau melimpah alam semesta saja, tetapi alam semesta bersama creative power yang disrtakan padanya. Tuhan tidak hanya menjadikan semesta alam saja, tetapi tuhan juga menjadikannya instrumen penyebab (lih. B.Lewis,dkk.(Ed.),Op.Cit.,hlm 914-915).Dengan wujud dan potensinya, akhirnya alam semesta menjadi penyebab bagi realitas-realitas particular yang ada di dalammya.

Dalam konteks pemahaman ini, Tuhan menurut Ibnu Rusyd tidak menciptakan alam semesta secara langsung. Dapat dipahami pula bahwa adanya realitas perubahan berganti roman dan berganti rupa sepanjang jaman tidak lain karena adanya kemampuan kreatif, potensi kreatif yang menyertai setiap materi yang ada di semesta alam ini. Bahkan dalam batas-batas tertentu, kita perlu memahami bahwa penciptaan alam semesta sebagai peristiwa transformatif alam semesta itu sendiri secara terus-menerus, karena melalui gerak pertama itu, Tuhan sudah memberikan daya transformasi pada alam itu sendiri ( Mircea Aliade, The Encyclopedia of Religion, New York, MacMillan Publishing Co.,1987,hlm.567).

Ibnu Rusyd menggunakan teori emanasi sebagai dasar pergulatan pemikirannya untuk memahami relasi antara alam dan Tuhan. Dalam teori emanasi ini, Ibnu Rusyd berangkat dari pemahaman bahwa salah satu sifat Tuhan yang hakiki adalah kesempurnaan-Nya dan keesaan-Nya. Tuhanyang esa inilah yang mengemanasikan alam semesta karena kesempurnaan-Nya.Kesempurnaan dan ke-Esa-an Tuhan itu harus dilihat dari sisi perbuatan-Nya sejak azali. Karena kalo tidak dipahami demikian, maka ada saat di mana Tuhan harus mengatur pada zaman tertentu, sebelum Dia memutuskan diri untuk menciptakan alam semesta ini. Tuhan yang mengatur rupanya susah terbayangkan oleh Ibnu Rusyd.Terkait dengan ke-Esa-an Tuhan, Ibnu Rusyd memahami bahwa yang melimpah dari Tuhan yang Esa tidak harus satu, tetapi juga lebih dari satu (Dr. Ahmad Daudy, MA(ED.), “Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam Islam”,Jakarta, Bulan Bintang, 1984,hal.5-6).

1.1.2. Alam dan Tuhan dalam Teori Emanasi

Ibnu Rusyd menggunakan teori emanasi sebagai dasar pergulatan pemikirannya untuk memahami relasi antara alam dan Tuhan. Dalam teori emanasi ini, Ibnu Rusyd berangkat dari pemahaman bahwa salah satu sifat Tuhan yang hakiki adalah kesempurnaan-Nya dan keesaan-Nya. Tuhanyang esa inilah yang mengemanasikan alam semesta karena kesempurnaan-Nya.Kesempurnaan dan ke-Esa-an Tuhan itu harus dilihat dari sisi perbuatan-Nya sejak azali. Karena kalo tidak dipahami demikian, maka ada saat di mana Tuhan harus mengatur pada zaman tertentu, sebelum Dia memutuskan diri untuk menciptakan alam semesta ini. Tuhan yang mengatur rupanya susah terbayangkan oleh Ibnu Rusyd.Terkait dengan ke-Esa-an Tuhan, Ibnu Rusyd memahami bahwa yang melimpah dari Tuhan yang Esa tidak harus satu, tetapi juga lebih dari satu (Dr. Ahmad Daudy, MA(ED.), “Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam Islam”,Jakarta, Bulan Bintang, 1984,hal.5-6).

Untuk mendukung pendapatnya ini, Ibnu Rusyd mengungkapkan perbedaan mendasar antara Tuhan dengan manusia dalam melakukan suatu aktivitas/perbuatan. Ibnu Rusyd mengatakan sesungguhnya ada perbedaan anatara Pembuat Pertama (Tuhan) dengan pembuat yang nyata (manusia). Dalam proses penciptaan, alam semesta ini melimpah dari Tuhan yang Esa. Tuhan tidak hanya melimpahkan yang satu saja, tetapi terdapat multiplisitas limpahan yang terjadi, sebagai efek multiple dari tindakan Tuhan yang Esa itu. Menurut Ibnu Rusyd, tindakan Tuhan semacam itu harus dibedakan dengan tindakan manusia. Manusia hanya mungkin melakukan sekali tindakan dengan satu efek tindakan yang telah dibuatnya. Tetapi untuk Tuhan, dengan sekali tindakan, dapat menghasilkan beragam efek dari tindakan yang telah diperbuat-Nya. Dengan alasan ini, akhirnya Ibnu Rusyd menolak pemahaman para pemikir teori emanasi pada umumnya yang menyatakan bahwa dari Yang Satu, Esa, hanya melimpah satu (B. Lewis,dkk (Ed.),Op.Cit.,hlm.915). Ibnu Rusyd sekali lagi secara tegas mengatakan bahwa Tuhan dalam keharusan-Nya menyebabkan segala sesuatu secara serentak, tanpa ada perantara lain selain Dia. Dalam bukunya, Tahafut-al-Tahafut, Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa pembuat yang Esa itu menyebabkan alam semesta dengan keanekaragaman realitas particular di dalamnya (Dr. Ahmad Daudy,MA (ed), Op.Cit.,hlm.31).

Dari apa yang telah diuraikan di atas, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa antara wujud empiris dengan wujud akali sebetulnya tidak dapat dipisahkan. Lebih lanjut Ibnu Rusyd menyatakan juga bahwa alamsemesta ini satu, ke luar dari Yang Satu. Di satu pihak, Yang Satu ini adalah penyebab adanya kesatuan. Sementara di pihak lain, Yang Satu ini menjadi penyebab adanya keragaman realitas. Untuk memperkuat pendapatnya ini, Ibnu Rusyd mengajukan argumentasi cemerlang melaui sebuah pernyataan tegas bahwa dari Yang Esa, dengan ke-Esa-an-Nya, harus melimpah keragaman atau melimpah apapun sesuai dengan kesempurnaan-Nya. Dari Yang Satu bukan hanya melimpah satu, karena hal itu tidak akan pernah sesuai dengan fakta keberagaman yang ada di semesta alam ini.

Semua prinsip, baik yang berasal dari materi maupun yang bukan materi, melimpah dari prinsip pertama (Tuhan). Untuk itu, eksistensi alam semesta ini tiada lain disebabkan oleh kekuatan Tuhan yang satu, sehingga kekuatan Tuhan yang satu itu meresap di dalammya. Dari kekuatan Tuhan ini, jadilah semuanya sebagai satu kesatuan yang sesuai dengan tindakan Tuhan yang satu. Karena jika tidak dipahami secara demikian, tidak akan pernah terjadi keteraturan dan keterkaitan antar bagian di dalam alam semesta ini. Berdasarkan pemahaman semacam ini juga, maka Ibnu Rusyd membenarkan bahwa Tuhan adalah penyokong dan pemelihara segala sesuatu.

Kalaupun ada kekuatan yang meresap dalam alam semesta, seperti yang dimaksudkan Ibnu Rusyd, hal itu bukan berarti bahwa dengan meresapnya kekuatan yang satu ke dalam alam semesta, maka alam semesta menjadi banyak, seperti yang diduga. Hal ini memang sesuai dengan anggapan kebanyakan orang bahwa dari prinsip pertama mula-mula hanya melimpah satu saja, kemudian dari yang satu itu melimpah yang banyak. Akan tetapi, dugaan semacam itu muncul dari pemikiran orang-orang yang menyamakan pembuat yang gaib (Tuhan) dengan pembuat nyata (manusia), atau antara pembuat yang immaterial (Tuhan) dengan pembuat yang material (manusia). Hal ini sangatlah mustahil bagi Ibnu Rusyd. Dari pemaparan di atas, maka jelaslah kebolehan melimpahnya keberagaman dari Yang Esa, tanpa perantara siapa dan apa pun, selain dari Yang Esa itu sendiri.

Ibnu Rusyd kemudian menambahkan penjelasannya dengan membandingkan alam semesta ini , yang terdiri dari berbagai bagiannya, dengan negara yang memiliki banyak pemimpin. Semua pemimpin yang ada dalam negara itu, akan tunduk di bawah pimpinan yang satu dan tertinggi, yaitu kepala negara. Demikian pun alam semesta ini, begitu banyak realitas particular ada di dalamnya, akan tetapi alam semesta, baik sebagai totalitas maupun realitas-realitas particular yang ada di dalamnya, tunduk di bawah prinsip pertama dan tunggal, yakni Penyebab alam semesta ini. Dengan begitu, tidak dapat dibantah bahwa dari Yang Esa melimpah beraneka ragam realitas sehingga sesuai dengan kenyataan yang ada dalam alam semesta.

1.1.3 Pengetahuan Tuhan dan Realitas Partikular di Alam Semesta

Ibnu Rusyd berangkat dari pemahaman bahwa Tuhan Yang Mahamulia hanya mengetahui realitas alam semesta secara universal saja, dan tidak secara particular. Tuhan baginya merupakan Akal pertama yang menggerakkan, bahkan merupakan Akal tertinggi. Karena itu, pengetahuan dari Akal tertinggi itu haruslah merupakan pengetahuan yang tertinggi pula, agar ada persesuaian antara yang mengetahui dengan yang diketahui. Karena itu, mustahil Tuhan mengetahui selain Zat-Nya sendiri. Sebab tidak ada suatu zat lain yang sama luhurnya dengan Zat Tuhan (Robert L. Arrington, A Companion to The Philosophers, USA, Blackwell Publisher Inc.,1999,hlm.668). Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pengetahuan Tuhan hanya dimungkinkan jika ada kesesuaian keluhuran, antara yang beraktivitas mengetahui dengan hal yang akan diketahui. Karena itu, Tuhan hanya mungkin mengetahui realitas yang secara kualitatif sejajar dengan Tuhan sendiri. Realitas yang secara kualitatif sejajar dengan Tuhan tidak lain hanyalah Zat Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, apa yang bukan Zat Tuhan, tidak mungkin diketahui oleh Tuhan.

Pengetahuan Tuhan akan Zat-Nya itu menjadi sebab bagi adanya pengetahuan Tuhan secara universal saja. Hal ini serentak mengandaikan bahwa pengetahuan Tuhan mengenai hal-hal particular tidaklah mungkin. Kalau Tuhan mengetahui hal-hal yang particular, maka hal itu berarti bahwa pengetahuan Tuhan itu disebabkan oleh hal-hal yang kurang sempurna dari pada-Nya, sesuatu yang tidak sejajar dengan Zat-Nya sendiri. Hal ini pun akanmenjadi tidak masuk akal, mengingat Tuhan yang adalah Akal Tertinggi itu seharusnya tidak mengetahui selain Zat-Nya sendiri, supaya ada persesuaian antara yang mengetahui dan yang diketahui. Ibnu Rusyd menggambarkan Tuhan sebagai kehidupn yang sempurna dari segala segi dan sudah puas dengan kesempurnaan-Nya sendiri. Bahkan pengetahuan Tuhan pun tidak ditentukan oleh hal-hal particular.

Terkait dengan pengetahuan Tuhan yag bersifat universal ini, Ibnu Rusyd melihat alam dan Tuhan sebagaimana halnya hubungan negara dengan kepala negara. Karena kedudukannya sebagai “Penyebab” (kepala), maka Tuhan itu lain dari alam, sebagaimana kepala negara lain dengan negara yang dipimpinnya. Tidaklah mungkin kepala negara mengetahui urusan pemerintahannya secara detail, apalagi menangani segala urusan kenegaraannya. Jika hal demikian ini terjadi, maka kepala negara itu sebenarnya mulai mengabaikan potensi-potensi yang seharusnyabekerja di dalam tubuh pemerintahannya. Tuhan yang diimani oleh Ibnu Rusyd rupanya tidak seperti itu. Akan tetapi persoalannya apakah Tuhan Ibnu Rusyd itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan alam semesta? Ternyata tidak bisa dikatakan demikian, karena bahaimana pun juga Ibnu Rusyd tetap memahami Tuhan dalam kaitannya dengan alam semesta. Antara Tuhan dan alam semesta sebenarnya ada penghubungnya.

Penghubung utama antara Tuhan dg alam semesta ialah intelligensi yang tingkat bertingkat, sama halnya dengan susunan bintang-bintang di langit. Adapun intelligensi yang menghubungkan realitas particular, termasuk manusia, dinamakan “intelligensi bulan”. Secara mengagumkan Ibnu Rusyd menerangkan bahwa intelligensi bulan yang merupakan asal dari akal manusia ini merupakan suatu benda alam yang “azali”, sebagaimana azalinya alam semesta itu sendiri.

Secara cermat, Ibnu Rusyd membedakan antara akal aktif (Active Intellect) dengan akal pasif (Receptive Intellect). Akal aktif merupakan sumber dari segala akal manusia yangmemiliki sifat satu dan universal, sementara akal kemungkinan merupakan pikiran yang berkuasa sehari-hari terhadap diri manusia. Menurut Ibnu Rusyd, akal manusia terdiri atas akal aktif (yang merupakan sumber) dan akal pasif (yang merupakan pikiran yang berkuasa sehari-hari dalam diri manusia).

Akal dan jiwa manusia adalah satu, bersifat universal, dan abadi. Jasmani manusia boleh meninggal dan musnah, tetapi akal dan jiwanya akan terus hidup, menjadi bebas dari jasmani yang kasar itu dan menyatukan dirinya ke dalam akal aktif yang menjadi induk dan asalnya. Pemikiran Ibnu Rusyd seperti ini dinamakan “monopsychism” yaitu paham yang menyatukan segala jiwa (Drs. H. Hasbullah Bakry, SH., Op.Cit., hlm.73).

1.2 Rangkuman

Dari uraian di atas, tampak bahwa Ibnu Rusyd memang terkenal sebagai pemikir ulung, yang menampilkan pemikiran yang sangat cemerlang, baik di dunia Islam maupun di dunia barat. Kalo mau digolongkan dalam pemikiran Filsafat, sekilas tampak bahwa Ibnu Rusyd berdasarkan pemikirannya termasuk kaum rasionalisme. Akan tetapi kalo dilihat secara cermat, sebenarnya Ibnu Rusyd selain mengagumi rasionalitas, serentak beliau juga meyakini adanya realitas yang tidak dapat dicerna secara rasional, dan hanya mungkin dipahami melalui kerangka agama dan iman. Dengan demikian, Ibnu Rusyd merupakan seorang filsuf yang sangat rasional di satu sisi, tetapi sangat agamis di sisi yang lain.

Dengan pemaparan yang sangat berbeda, Ibnu Rusyd berusaha secermat mungkin memberi tendensi bahwa alam semesta ini azali: kekal,abadi, tiada berawal dan tiada akan berakhir. Alam semesta ini azali, karena keberadaan alam semesta ini disebabkab oleh Tuhan yang azali. Alam semesta ini azali, karena alam semesta memiliki daya kreatif dalam dirinya semndiri yang berasal dari Tuhan. Tendensi pada keazalian alam dan Tuhan semacam itu, beliau kukuhkan dengan teori emanasi.

Dalam teori emanasi, Ibnu Rusyd meyakini bahwa alam semesta melimpah atau meleleh dari Tuhan. Ibnu Rusyd memahami peristiwa emanasi ini sebagai keharusan mutlak berdasarkan kesempurnaan Tuhan. Lebih lanjut, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa alam semesta ini merupakan satu kesatuan totalitas, melimpah dari Yang Satu, yaitu Tuhan. Dari Yang Satu melimpah keragaman sehingga sesuai dengan fakta adanya keragaman di semesta alam. Dengan pendapatnya ini, Ibnu Rusyd serentak menolak bahwa dari Yang Satu hanya melimpah satu. Jika dari Yang Satu melimpah hanya satu, hal ini baginya tidak akan sesuai dengan keberagaman yang ada di alam semesta ini. Selain itu, Ibnu Rusyd juga mau memberi tendensi bahwa alam semesta ini azali. Eksistensi Tuhan sudah berarti adanya Tuhan yang mengemanasikan diri-Nya, yang nyata dalam alam semesta sebagai totalitas. Dengan begitu, proses emanasi harus dipahami sebagai proses yang terjadi sejak keazalian.

Karena alam semesta meleleh atau melimpah dari Tuhan, maka konsekuensinya pengetahuan Tuhan atas realitas particular bersifat universal. Tuhan tidak mengetahui segala sesuatu sampai sekecil-kecilnya. Bagi Ibnu Rusyd, harus ada kesesuaian antara yang mengetahui dengan yang diketahui. Karena itu, Tuhan harus dipahami sebagai yang hanya mengetahui sesuatu yang seluhur dengan Tuhan itu sendiri dan itu tidak lain adalah zat-Nya sendiri. Pengetahuan Tuhan mengenai zat-Nya itulah yang menjadi sebab pengetahuan Tuhan secara universal. Kemaha-kuasaan Tuhan harus dikaitkan dengan prinsip-prinsip umum yang mengatur alam semesta ini secara azali, yaitu Zat-Nya sendiri. Kalau Tuhan mengetahui setiap realitas particular sampai tingkat sekecil-kecilnya, maka pengetahuan Tuhan itu disebabkan oleh sesuatu yang kurang sempurna dalam dirinya. Dalam hal ini mustahil, karena Tuhan dalam pemikiran Ibnu Rusyd adalah Tuhan yang sempurna dan merupakan Akal Tertinggi. Tuhan yang sempurna dan merupakan Akal tertinggi tersebut, tidaklah mungkin mendapatkan pengetahuan dari sesuatu yang kurang sempurna.

Arro'yu Ibnu Rusyd 'anil azalil 'alam wa Ilahiyah

KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN

(Pemikiran Ibnu Rusyd dalam Rentang Sejarah).


2.1. Pengertian Keazalian

Kata dasar keazalian adalah azali. Dalam kamus dan ensiklopedi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tidak ditemukan kata azali. Karena itu, etimologi kata “azali” sulit dilacak. Namun, bila kita membaca buku-buku yang memuat Filsafat Islam seing dipakai khususnya dalam Filsafat tentang penciptaan, ruang, waktu, Tuhan dan Alam. Kita sudah mengenal bahwa Filsafat Islam itu berpusat di Arab. Karena itu, dapat diduga bahwa kata azali berasal dari Bahasa Arab.

Setelah saya berupaya memahami pemikiran Ibnu Rusyd, salah satu filsuf skolastik Islam, saya melihat bahwa kata azali terkait erat dengan persoalan waktu. Dari alur pemikiran Ibnu Rusyd dapat ditangkap bahwa keazalian berarti keabadian, kekekalan, tiada berawal dan tiada berakhir (Drs. Hasbulah Bakry, Op.Cit.,hlm.69-70. Lihat juga Qemar Amin Hoesin, Op.Cit: hlm.365-366.). Kata azali yang berarti keabadian, kekekalan, tiada berawal, dan tiada berkesudahan di sini, rupanya tidak hanya berkaitan dengan keberadaan dari sesuatu yang tidak akan pernah musnah, tetapi juga soal asal-usul dari sesuatu yang ada. Karena itu, kata keazalian berarti juga tidak berawal dan tidak berkesudahan, dari kekal hingga kekal. Dengan demikian, keazalian juga menyangkut segala sesuatu serta proses yang memungkinkan dan menyetai terjadinya segala sesuatu.

Dalam filsafat tentang Alam dan Tuhan, Ibnu Rusyd melihat bahwa alam dan Tuhan itu bersifat azali, abadi, yang berarti tidak berawal dan tiada kan berakhir. Sekilas, pernyataan ini tidak koresponden dengan kenyataan alam. Bagaimanapun, realitas particular tertentu di alam ini (terutama realitas material) pada kenyataannya musnah juga, seperti kematian manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dari kenyataan ini, alam rupanya tidak bisa dikatakan sebagai azali.

Namun demikian, pemahaman Ibnu Rusyd mengenai keazalian tidak bisa dibantah begitu saja hanya dengan alasan sederhana seperti itu. Ibnu Rusyd yang memakai kata azali sebenarnya mau bicara soal hakikat terdalam dari segala-sesuatu, yaitu potensi kreatif yang menyebabkan dan menyertai segala sesuatu, entah sebagai totalitas maupun sebagai realitas yang particular. Dari pemahaman seperti ini, kata azali sebetulnya juga menunjuk karakter universal segala sesuatu. Di sini saya memahami bahwa Ibnu Rusyd melihat adanya “creative power” universal, yang memungkinkan terjadinya dan menyertai alam semesta dengan segala karakternya, termasuk perubahan-perubahan alam particular, bahkan juga soal peristiwa kemusnahan suatu realitas dalam alam semesta ini.

Jadi, keazalian berarti keabadian, kekekalan, dan secara negatif, keazalian berarti tiadaberawal dan berakhir, tidak kontingen dan juga tidak berdurasi. Dari uraian di atas, keazalian merupakan wadah di mana form dan wujud dengan semua karakter dari segala sesuatu terbentuk dan ada. Dengan demikian, keazalian juga merupakan hakikat terdalam dari segala sesuatu. Dikatakan demikian, karena dalam keazalian ini, apa pun tidak akan pernah musnah dan selalu azali, karena berada dalam wadah azali, yaitu keazalian.

2.2. Keazalian Alam dan Tuhan dalam Kaitannya dengan Gerak.

Dalam pemikiran Ibnu Rusyd, antara gerak, alam, dan Tuhan tidak bisa dipisahkan. Dalam proses penciptaan, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa bukan Tuhan yang menciptakan alam semesta secara langsung. Posisi Tuhan terhadap alam adalah sebagai perantara. Posisi sebagai pengantara inilah yang menyebabkan adanya gerak. Dengan demikian, Tuhan merupakan sumber gerak, akan tetapi bukan Tuhan yang bekerja menjadikan alam (Dr. Oemar Amin Hoesin, Kultur Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1964, hlm.365-366). Tuhan sebagai sumber gerak tidak bergerak dan tidak ada yang menggerakkannya. Tuhan adalah Penyebab Pertama dan Utama, Tuhan hanyalah menyebabkan gerak pada akal pertama saja. Sedangkan gerakan-gerakan selanjutnya yang menimbulkan berbagai peristiwa di alam ini disebabkan oleh akal-akal selanjutnya. Akal-akal selanjutnya yang dimaksud di sini sebenarnya merupakan “creative power”, yang menyertai alam semesta sebagai totalitas maupun menyertai setiap realitas particular di alam semesta ini. Karena itu, peristiwa atau kejadian apapun di alam ini bukanlah akibat langsung dari tindakan Tuhan. Alam semesta, sebagai totalitas maupun realitas particular di dalamnya, berproses dengan creative power yang terkandung di dalamnya, tanpa campur tangan langsung dari Tuhan. Adanya creative power dalam alam itu sendiri menjadi dasar dari gerak alam semesta , yang mendorong dan membentuk karakter alam semesta dan realitas particular yang ada di dalamnya.

Kalo gerak itu dipahami sebagai energi atau daya kreatif, maka hakikat dalam materi itu adalah energi. Hal ini sangat jelas, ketika Ibnu Rusyd menyatakan bahwa segala bendaadalah potensi yang bersifat universal. Setiap benda mengandung energi yang membentuk dirinya sendiri (Ibid.,hlm366). Karena setiap benda mengandung energi, maka setiap benda memiliki gerak dan gerakan itu memiliki dua arah, yaitu gerak di dalam dirinya sendiri dan gerak terhadap benda-benda lainnya (Ibid.). Dalam konteks ini, Shushtery menerangkan pemikiran Ibnu Rusyd secara gamblang:

Matter as universal potency, contain in itself the capacity of taking form. Both matter and form are eternal and necessary to each other. The highest sphere is immaterial and permanent. It does not revolve as considered by other scholars, but the apparent mation is connected with the star fixed in it. The heaven of the planets, on the other hand, has two mations; one particular to each planet and the other its daily movement. Sun and the stars contribute to life on earth by their warmth (A.M.A. Shushtery, Outline of Islamic Culture, VOL. II., Banggalore City, The Bangalore Press, 1938, hlm.436).

Gerakan adalah suatu akibat, karena tiap-tiap gerakan senantiasa mempunyai sebab menggerakkan yang mendahuluinya. Kalo kita mencari sebab itu, maka akan kita temui sebab penggeraknya. Begitu seterusnya, dan tidak mungkin berhenti. Karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menganggap bahwa sebab yang terdahulu atau yang pertama itu adalah sesuatu yang tidak bergerak. Suatu gerak yang tiada awal dan tiada akhir yang merupakan penggerak utama, “Prima-Causa” yang hanya pantas dikenakan bagi Tuhan.

Karena Penggerak Utama (Tuhan) ini tidak berawal dan tidak berakhir, maka Tuhan pada hakikatnya azali, tiada berawal dan tiada berakhir, kekal ada-Nya. Dalam teori emanasi yang pernah saya uraikan, kita telah melihat bahwa Tuhan yang sempurna dan esa mengemanasi alam semesta, tanpa membutuhkan perantara dari sesuatu yang lain, selain diri-Nya sendiri. Tuhan yang menggerakkan itu sebenarnya adalah Tuhan yang mengemanasikan diri-Nya , sehingga terbentuk alam semesta dengan potensi dan karakternya. Maka di sini, Tuhan itulah yang memberikan creative power pada alam semesta dengan seluruh realitas particular yang ada di dalamnya. Tuhan yang memberi creative power berarti Tuhan yang memberikan daya aktif dan hidup pada alam semesta. Karena itu, lebih lanjut Ibnu Rusyd mengatakan bahwa setiap benda mempunyai ‘kemungkinan ‘ bahkan setiap benda bernyawa. Karena benda bernyawa, maka benda itu pun berakal sesuai dengan keadaan dan bentuknya sendiri (Op.Cit., hlm.366). Itu berarti bahwa akal itu sendiri mempunyai daya untuk mengenal dirinya sendiri dan hal-hal lain dengan keadaannya. Akal di sini merupakan isyarat gerak yang menimbulkan perubahan , nerganti roman dan berganti rupa sepanjang jaman yangtiada hentinya.

Gerak yang menimbulkan perubahan berganti roman dan bersalin rupa di sini tidak berarti bahwa alam semesta itu bersifat baru (hadits), karena bentuk alam semesta itu benar-benar mempunyai sumber asal-usulnya, yaitu Tuhan. Namun, alam semesta dalam kaitannya dengan waktu sendiri berkembang secara terus-menerus dalam kedua kutub yang ekstrem, yaitu tanpa ada proses penyelangan waktu (Oliver Leaman, Op.Cit.,hlm 35). Alam terus menerus berubah, tetapi alam serentak bersifat azali. Nah, itu berarti bahwa alam semesta karena hakikatnya yang berubah dan berkembang secara terus-menerus, tanpa penyelangan waktu, menunjukkan karakter keazalian alam semesta. Alam semesta secara hakiki tidak bersifat hadits (baru, kontingen), melainkan azali, kekal, dan abadi, karena teremanasi dari yang azali dan kekal, yaitu Tuhan sebagai Penggerak Pertama dan Utama. Maka kita sebetulnya dapat mengatakan bahwa alam semesta ini tidak azali, baru, sebab azali selalu berarti tiada berawal dan tiada berakhir. Terhadap persoalan ini, Ibnu Rusyd mengembangkan argumentasinya dengan mendasarkan diri pada beberapa ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan sedemikian rupa untuk dijadikan landasan teologid bagi pemikirannya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dipakainya sebagai landasan pemikiran, antara lain sebagai berikut. Ibnu Rusyd mengemukakan Al-Qur’an ayat 7 dari surah Hud yang berbunyi: “ Allah itulah yang menjadikan beberapa langit dan bumi dalam waktu enam hari, dan tahtanya di atas air”. Ibnu Rusyd menafsirkan bahwa memang ayat itu membenarkan pemahaman bahwa alam semesta merupakan realitas yang dijadikan oleh Tuhan. Tetapi di samping itu, ayat ini memberi kesan pula sebelum ada langit dan bumi ini, sudah ada zaman dan zaman itu merupakan wadah dari alam semesta ini. Selain itu, ayat ini juga dapat memberi kesan bahwa sebelum ada langit dan bumi, sudah ada tahta dan air. Berkaitan dengan tafsiran ayat ini, kita perlu melihat kembali arti alam menurut pemikiran Ibnu Rusyd. Kita sudah mengetahui bahwa Ibnu Rusyd memahami alam sebagai totalitas eksistensi dan potensi terpadu. Hal itu berarti bahwa alam sudah termasuk air, tahta, ruang, dan waktu.Kenyatannya, dalam Al-Qur’an tampak jelas bahwa sebelum langit dan bumi dijadikan sudah ada waktu,tahta dan air yang semuanya termasuk alam semesta. Dengan demikian, alam semesta sebenarnya terbentuk bukan dari “ketiadaan”, dan dari zaman tertentu, melainkan dari kekal, sejak azali. Karena itu, wujud dan bentuk alam ini keseluruhannya sebetulnya bersifat azali, tiada berawal dan tiada berakhir.

Selain ayat di atas, Ibnu Rusyd juga mengemukakan juga ayat 48 dari Surat Ibrahim yang berbunyi: “ Pada hari bumi ini diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit, menghadaplah keduanya ke hadirat Allah yang Mahaesa dan mengerasi”. Menurut Ibnu Rusyd, ayat ini kalo ditafsirkan akan menunjukkan kesan bahwa dalam kejadian alam semesta ini ada kelangsungan, pergantian. Hal ini tidak berarti bahwa alam semesta ini hadits (baru). Untuk memperkuat pendapatnya ini, Ibnu Rusyd kembali mengutip Al-Qur’an ayat 11 dari Surat Fushshilat yang berbunyi : “ Kemudian Allah menuju ke langit yang ketika itu sebagai asap, lalu katanya kepada langit dan bumi: Datanglah kamu berdua, baik dengan suka hati ataupun terpaksa. Menyahutlah keduanya: kami datang dengan penuh kesukaan”. Ibnu Rusyd menyatakan, dari ayat ini dapat diambil kesan bahwa wujud alam itu adalah azali sedangkan yang baru itu hanyalah pergantian bentuknya (Drs. H. Hasbullah Bakhry, SH., Op.Cit., hlm. 71-72).

Kalau dilihat secara cermat, sebenarnya dasar pemikiran Ibnu Rusyd mengenai keazalian alam semesta dalam konteks ini adalah semua gerak, energi, creative power dalam alam semesta yang aktif secara terus-menerus, tanpa diketahui awalnya dan tiada akan berkesudahan, dan tiada akan pernah berhenti. Persoalan pergantian wujud itu merupakan persoalan hakikat realitas alam semesta, yang sebenarnya dimungkinkan oleh keterpautan totalitas alam semesta itu dengan creative power yang terkandung di dalam dirinya sendiri, yang terus menerus menimbulkan gerak. Creative Power alam semesta itu tentunya, menurut alur pemikiran Ibnu Rusyd, ada dan aktif hanya dalam keterkaitannya dengan Creative Power yang universal, Pertama, dan Tunggal, yaitu Tuhan. Dapat dikatakan bahwa karena hakikat alam semesrta adalah potensi kreatif (Creative Power), yang menimbulkan proses terus menerus pada alam semesta, maka alam semesta ini bersifat azali, tiada berawal dan tiada berkesudahan, kekal dan abadi.

2.3. Keazalian Alam dan Tuhan dalam Kaitannya dengan Ruang dan Waktu

Ibnu Rusyd adalah seorang filsuf Islam. Kita tahu bahwa bagi umat Islam, Al-Qur’an tidak hanya diyakini sebagai Buku Suci yang memuat hal-hal yang terkait dengan perkara spiritual belaka, akan tetapi Al-Qur’an juga dipercaya sebagai sumber dan gudang ilmu pegetahuan. Al-Qur’an diyakini memuat jawaban-jawaban fundamental serta difinitif atas persoalan-persoalan ketuhanan, alam, dan manusia. Al-Qur’an memuat hal-hal yang begitu kompleks. Karena itu, pemahaman yang benar dan tepat atas isi Al-Qur’an menjadi tuntutan yang sangat mendasar. Ibnu Rusyd sendiri melihat, terutama bagi kaum intelektual, isi Al-Qur’an mesti ditafsir dan dikaji secara rasional agar dapat dipahami secara benar dan tepat sehingga bermakna bagi petualangan hidup manusia. Bahkan Ibnu Rusyd sendiri menyatakan bahwa tidaklah benar bagi seorang intelektual memahami isi Al-Qur’an secara literal, tanpa ditafsir dan dikaji secara rasional. Tentang isi Al- Qur’an, Ibnu Rusyd berpendirian bahwa Al-Qur’an merupakan buku yang diturunkan oleh Allah untuk seluruh manusia. Oleh karena manusia memiliki tingkat-tongkat tertentu dalam pengetahuan, ada yang berilmu dan ada yang bodoh, maka pengertian atas isi Al-Qur’an pun sudah barang tentu bertingkat-tingkat pula, menurut tingkat pemahaman seseorang. Ibnu Rusyd membagi tingkat pengertian atas Al-Qur’an menjadi dua kategori: pertama, Al-Qur’an bagi orang illiteral (orang awam) harus ditafsir secara literal. Artinya, bagi orang awam, Al-Qur’an harus dikemas dan disajikan berdasarkan bunyi serta cara mereka berpikir. Kedua, Al-Qur’an bagi orang literal (kaum terpelajar atau kaum intelektual), Al-Qur’an harus dilihat secara alegoris atau secara kiasan , menurut tingkat ilmu pengetahuan kaum intelektual (lih. H. Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibnu Rusyd, Op. Cit., hlm.160).

Dalam peristiwa penciptaan alam semesta, dalam kaitannya dengan ruang dan waktu, Al-Qur’an memang menyajikan informasi perihal penciptaan alan semesta (langit dan bumi) yang dijadikan Tuhan dalam waktu 6 (enam) hari. Dinyatakan juga bahwa alam semesta bertahta di atas air. Terkait dengan penciptaan alam semesta ini, kita dapat melihat Kitab Suci Al-Qur’an dalam Surat Hud ayat 7 yang berbunyi :” Allah itulah yang menjadikan langit dan bumi dalam waktu enam hari, dan arasynya (tahtanya) di atas air (Lihat Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia). Informasi mndasar dalam Al-Qur’an itulah yang dijadikan Ibnu Rusyd untuk memahami peristiwa penciptaan alam semesta dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu. Sebagai seorang filsuf, Ibnu Rusyd sedikit mengesampingkan arti literal Ayat Suci Al-Qur’an tersebut dan lebih condong untuk memahami secara alegoris informasi yang terdapat dalam Ayat Suci Al-Qur’an perihal penciptaan alam semesta, dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu. Ibnu Rusyd tidak begitu saja menerima dan meyakini pernyataan Al-Qur’an itu sebagai ungkapan yang dapat dijadikan representasi realitas peristiwa penciptaan alam semesta ini oleh Tuhan. Bahasa yang dipergunakan dalam Al-Qur’an bagi Ibnu Rusyd merupakan bahasa alegoris yang tidak bisa diterima begitu saja, tanpa adanya penafsiran dan pengkajian secara rasional.

Untuk itu, Ibnu Rusyd perlu melihat secara jeli dan kritis peristiwa penciptaan alam semesta dan keterkaitannya dengan ruang dan waktu serta sangat berkepentingan sekali untuk mengajukan beberapa pertnyaan mendasar yang dirasakannya mampu membawa pada suatu pemahaman yang sejati, akan hakikat peristiwa alam semesta dalam kaitannya dengan ruang dan waktu. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang Ibnu Rusyd lontarkan adalah sebagai berikut: Pertama, apakah waktu itu sudah ada sebelum Tuhan menciptakan alam semesta ini, ataukah waktu itu dimulai dari hari pertama dari keenam hari sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an? Apakah kita tidak dapat membayangkan waktu sebelum adanya waktu seperti yang kita pahami sekarang manakala Tuhan ada bersama dengan waktu itu? Kedua, apakah dalam proses penciptaan alam semesta ini, ada saat di mana Tuhan harus menunggu saat yang tepat untuk mencipta?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang Ibnu Rusyd munculkan di atas, rupanya tidak mendapat jawaban yang memadai secara rasional dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Ayat Suci Al-Qur’an rupanya tidak memberikan jawaban yang pasti dan meyakinkan berkaitan dengan peristiwa penciptaan alam semesta dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu. Bahasa Al-Qur’an perihal ruang dan waktu itu tetap mengundang banyak interpretasi yang mungkin timbul (Lih. Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam Abad Pertengahan, Op.Cit. hlm.33).. Kenyataan seperti inilah yang mendorong Ibnu Rusyd untuk berpetualang dengan pemikirannya dalam rangka memahami hakikat alam semesta dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu.

Kontribusi Al-Qur'an dalam Ilmu Pengetahuan

Peran Al Qur'an Dalam Ilmu Pengetahuan

Kita mungkin termasuk salah satu orang yang kecewa dengan kenyataan ummat islam masa kini, saya memakluminya… begitulah kenyataannya…

Namun demikian saya akan katakan bahwa pandangan terhadap ilmuwan kita (muslim) agak sedikit sinis ..... bahkan Dr Abdus Salam dikatakan sebagai fisikawan bukan hasil menggali dari Alqur'an atau kalau adapun itu hanya mencocok-cocokkan!!! Hal ini saya tidak mau menebak-nebak persoalan bagaimana sang ilmuwan tersebut memperoleh pengetahuan fisikanya.....saya hanya ingin mengungkapkan dasar-dasar untuk menjadi ilmuwan.....memang di dalam Alqur'an tidak dijelaskan bagaimana membuat pesawat ..... membuat roti ..... membuat jembatan layang dan lain sebagainya, bahkan di setiap kitab agama manapun juga tidak ada ..... weda-kah, injil-kah atau kitab-kitab filsafat sang Budha .....

Mari kita melihat sejarah… siapa sebenarnya yang mendahului sejarah ilmu pengetahuan modern….dan apa yang menjadi azas sehingga mereka menjadi ilmuwan dan bandingkan dengan ilmuwan Kristen yang mendasari penelitiannya bukan berdasarkan keterangan kitab suci injil sehingga para saintis dianggap bid'ah atau sekukler oleh gereja….

Para cendekiawan barat mengakui bahwa Jabir ibnu Hayyan ( 721-815) adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya dalam bidang Alkemi yang kemudian oleh ilmuwan barat diambil alih serta dikembangkan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai ilmu kimia ( Al kemi dari bahasa arab) sebab Jabir yang namanya dilatinkan menjadi Geber adalah orang yang pertama yang mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi dari mineral-mineral zat-zat kimiawi

Muhammad Ibnu Zakaria Ar rozi (865-925) telah menggunakan alat-alat kkhusus untuk melakukkan proses yang lazim dilakkukan ahli kimia seperti distilasi, kristalisasi, kalsinasi… namanya dilatinkan menjadi Razes, dianggap sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia pertama di dunia, dan dipergunakan oleh para sarjana Barat yang baru berabad-abad kemuadian mempelajari sains, yang telah dikembangkan ummat Islam di universitas-univesitas Islam di Todelo dan Kordoba.

Ibnu Sina, salah seorang tokoh ilmuwan Islam yang pengaruhnya sangat besar di Eropa karena karya-karyanya dibidang ilmu pengetahuan kealaman, terutama ilmu kedokteran. Apa yang menjadi landasan para ilmuwan /ulama pada jaman itu ?

Didalam Alqur'an banyak diperoleh ayat yang mendorong ummat Islam untuk melakukan intidzar (penelitian / memperhatikan) dan menggunakan akal dan pikiran :

"Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intidzr / dadzar apa-apa yang ada di langit dan di bumi." (QS. Yunus:101)

Maka apakah mereka tidak melakukan intidzar dan memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana mereka didirikan. Dan bumi bagaimana dibentangkan, maka berilah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan (QS. Al Ghasiyah:17-20)

Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tanaman zaituin, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah (atau tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berfikir (QS. An Nahl:11)

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mempergunakan akal (QS. An Nahl:12)

Bagaimana mengenai ayat-ayat yang menyangkut penciptaan kita sendiri?

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari / ekstrak yang berasal dari tanah (QS. Al Mu'minun:12)

Yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imran : 191)

Dan banyak lagi ayat-ayat yang mendorong untuk meneliti dan memperhatikan diri maupun alam semesta, sayang kebanyakan kita kurang memperhatikan bagaimana metodologi penelitian yang diajarkan di sekolah & perguruan tinggi.

Sebelum pesawat terbang ditemukan, yang pertama diperhatikan oleh orang adalah bagaimana burung itu bisa terbang ..... kemudian ia memperhatikan dengan teliti apa saja instrumen yang mendukung untuk bisa terbang ..... kesimbangan bobot dan tenaga untuk mendorong serta memperhatikan sistem aerodinamisnya, sehingga dengan percobaan-percobaan bertahun-tahun pada akhirnya ditemukan suatu kendaraan yang mirip burung.

Alqur'an hanya memberikan kesadaran dan dorongan untuk menggali suatu peristiwa alam atau gejala-gejala sehingga mendapatkan akurasi yang benar, untuk kemudian hasil penelitian itu disebut ilmu pengetahuan. Dan untuk anda ketahui, bahwa apa yang anda pelajari di kampus atau sekolah hanya berupa paket ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh para peneliti/ilmuwan, artinya kita masih banyak membaca tulisan-tulisan yang disajikan oleh dosen ketimbang memperhatikan kejadian-kejadian alam semesta maupun gejala apa yang dialami oleh individu manusia.

Padahal pertamakali turun ayat kepada Nabi Muhammad adalah surat Al 'alaq ... yang dimulai dengan kata iqra' ..... pada kelanjutan kalimay itu tidak disebutkan membaca sebuah kitab atau mata pelajaran berupa buku-buku seperti paket di sekolah, akan tetapi perintah membaca disini ialah melihat kejadian atau prosesi penciptaan manusia!!! Bacalah dengan nama Tuhanmu ..... yang menciptakan manusia dari segumpal darah .....

Pada firman Allah di atas dijelaskan bahwa alam semesta itu merupakan ayat-ayat Allah (ayat kauniah), artinya konsepsi Alqur'an tidak akan lepas kebenarannya dengan ayat-ayat kauliyah (firman). Jadi tidak benar kalau dikatakan ilmuwan kita hanya mencocok-cocokkan dengan pengetahuan yang ada.....

Ketika anda masuk kuliah pada jurusan kedokteran misalnya ..... yang pertama anda terima bukan status sebagai dokter ..... akan tetapi anda akan mendapatkan pelajaran bagaimana anda memperhatikan gejala-gejala yang terjadi pada anatomi manusia, misalnya detak jantung, saluran pernapasan, sistem kerja syaraf, atau sistem pencernaan, dan lain-lain.

Jadi jelaslah bahwa yang ditanamkan pada kita oleh Alqur'an bukan ilmu fisika, bukan biologi atau sejarah, akan tetapi lebih dari sekedar ilmu-ilmu itu yaitu menjadi manusia yang berpikir (afala tatafakkarun) ..... berakal (afala ta'qilun) ..... dan meneliti (afala tandzurun), apa-apa yang terjadi pada alam semesta sehingga menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan ..... (sayang umat islam sekarang kurang memperhatikan ayat ini).

Sekali lagi, islam menempatkan berpikir dan menggunakan akal lebih tinggi ketimbang ilmu itu sendiri, bahkan lebih baik dari ibadah seribu rakaat (Al Hadis), sebab ilmu pengetahuan bersifat nisbi (berubah-ubah), akan tetapi berpikir merupakan jalan untuk mengetahui lebih jauh dari apa yang diperoleh sekarang. Kalau seandainya Alqur'an menjelaskan bagaimana cara membuat pesawat terbang, berarti islam tidak menanamkan filsafat ilmu kepada umatnya, sehingga akan menjadi tidak relevan lagi jika terjadi pengembangan-pengembangan yang lebih maju. Yang pada akhirnya Alqur'an tidak lagi disebut universal dan tidak berdimensi .....

Maka kekecewaan kita terhadap umat sekarang, janganlah membuat kita menutup mata bahwa Alqur'an sangat menjunjung dan mendorong umatnya untuk menjadi peneliti dan memperhatikan gejala-gejala alam semesta, sehingga jika kita lakukan dengan benar maka akan kembali kejayaan islam seperti pada abad ketujuh sampai akhir abad ketigabelas, yang pada waktu itu umat kkristen terbelakang oleh karena doktrin yang membunuh kreativitas umat untuk berpikir maju ..... yang pada akhirnya umat memberontak dari sikap gereja yang ortodoks ..... jadilah kaum sekuler yang kita kenal sekarang ..... Jadi kaum kristen bukanlah didorong oleh Alkitab untuk menjadi manusia modern seperti sekarang, melainkan mereka keluar dari peraturan dan doktrin Alkitab itu sendiri, namun sebaliknya kaum islam sekarang mengalami kemunduran diakibatkan karena justru tidak memperhatikan cara berpikir qur'ani ..... seperti apa yang telah saya ungkapkan pada ayat-ayat di atas.

Konkritnya ialah, kaum kristen maju disebabkan meninggalkan ajaran agamanya (sekuler) sedangkan kemunduran kaum islam sekarang disebabkan meninggalkan ajaran islamnya .....

Saya akan menunjukkan sebuah sejarah Nasrani, bahwa "Galileo" yang terkenal, pada masa 300 tahun yang lampau (1633) telah dihadapkan kemuka majelis Paus, dan dengan ancaman akan disiksa, dipaksa untuk menarik kembali keterangannya yang terkutuk dan menyalahi hukum agama, bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Coba anda bandingkan dengan sejarah Islam di Cordova dan Toledo yang berlangsung pada awal abad ketujuh, tentang kemajuan teknologi yang dikembangkan oleh ulama Islam dengan para peneliti Kristen yang baru dimulai pada abad keenambelas yang dipelopori oleh Galileo.

Kesimpulannya ialah bahwa tidak mungkin Alqur'an memuat secara detail pelajaran tentang kimia praktis, fisika praktis, ilmu-ilmu bangunan, desain interior/eksterior, manajemen perusahaan, ..... kecuali hanya memberikan landasan untuk berpikir dan meneliti apa-apa yang dihadapi di muka bumi ini. Sehingga kita akan mendapatkan keterangan mengenai alam semesta yang merupakan ayat-ayat kauniah yang digelar mengikuti sunnah-sunnah (ketetapan-ketetapan) Allah Swt. Karena tidaklah mungkin ilmu pengetahuan itu ada, jika tidak melalui berpikir (afala tatafakkarun) ..... menggunakan akal (afala ta'qilun) ..... dan meneliti (afala tandzurun).....

Di bawah ini sebagian ulama Islam yang turut andil dalam menyumbangkan pemikiran-pemikiran modern sebelum bangsa Eropa menjadi manusia beradab :

Rhazes (Al Razi) hidup antara tahun 865-925, menurut Dr Max`Meyerhof ..... tidak disangsikan sebagai seorang physician terbesar dalam dunia Islam ..... pada waktu mudanya ia sebagai doktor kimia.

Ishak Yuda, hidup antara tahun 855-955, ia berasal dari Mesir, bekerja sebagai dokter istana pada pemerintahan Fatimiyah, waktu itu berkuasa di Tunisia ..... kitab-kitabnya bayak diterjemahkan dalam bahasa latin, diantaranya adalah : On Fevers (tentang penyakit malaria), .....On the elements (Anasir), On simple drugs and aliments, On urine.

Haly Abbas, wafat tahun 944M, ia mengarang Ensiklopedia atau alkitab Al Maliki dalam bahasa Inggris disalin dengan judul "The Whole Medical Art".

Avicenna / Ibnu Sina adalah seorang filosof dan doktor ..... buku karangannya Al Qanun fi'thibb (Canon of medicine) dalam abad keduabelasM. Gerald Cremona, menyalin buku Ibnu Sina kedalam bahasa latin. Buku-bukunya bukan semata-mata dalam ilmu kedokteran saja, tetapi terbagi-bagi atas beberapa cabang : ilmu agama, metafisika, astronomi dan phylology dan beliau juga seorang pemusik yang handal.

Albiruni, hidup tahun 973-1048M, ia seorang doktor penyakit, ahli falakiyah, ahli matematika, ahli obat-obatan, ahli ilmu bumi dan sejarah ..... (Kultur Islam, Dr Oemar Amin Hoesin, 1964, penerbit Bulan Bintang, Jakarta)

Islam and the Music

Memang banyak yang beranggapan bahwa Islam melarang musik atau bermusik, padahal yang paling mudah saja bisa kita lihat ketika seorang muslim mempelajari ilmu tadjwid (ilmu membaca Al-Qur'an) maka kita akan sekaligus mengenal ilmu musik yg berasal dari Islam atau memanggil umat Islam (adzan) untuk menjalankan sholat menjadi terasa indah ditelinga umatnya semua itu dilakukan dengan nyanyian yg melodius.

Lalu kalau dilihat didalam buku Kultur Islam yang menjelaskan tentang Sejarah Perkembangan Kebudayaan dan ilmu Pengetahuan Islam dan Pengaruhnya dalam Dunia Internasional. Dalam Islam Al Qur'an adalah sumber & ilham dari musik. Contohnya seorang penyanyi tenor solo yang tiada bandingannya di Eropa pd abad ke 19 M, dia menyanyi dengan indahnya dalam sebuah pertunjukan sandiwara Meyerbeer berlakon Hugenoten. Dalam pertunjukan tsb sang penyanyi tenor dapat membius penonton dgn suaranya yg begitu menyayat hati. Hal tsb bisa terjadi stlh dia mendengar dan terinspirasi dari suara seorang muslim yg tengah membaca ayat suci Al Qur'an surah Al Fatehah ketika sang penyanyi tenor mengunjungi suatu dusun Mesir di Syracusa.

Semangat pasukan nabi Muhammad SAW bisa lebih berkobar ketika perang Uhud pada 625 M, dan 3 kali pasukan Nabi dapat memukul mundur sekaligus mengalahkan pasukan kaum Qureish, dengan bantuan nyanyian perang yang dikumandangkan oleh Hindun seorang wanita kesatria Muslimat sekaligus yang memimpin nyanyian perang tsb.

Dibuku tsb dijelaskan pula bagaimana Islam memberi ilham dan menuntun musik Eropa pada abad 10 M. Teori musik yang mengandung element Persia dan Byzantium diperoleh seorang ahli musik Islam bernama Ibnu Misdjah (705 - 714M) dimana element tsb mempengaruhi musik Eropah pd saat itu.

Ada juga seorang teoritikus musik Islam Safi al-Din Abd Al-Mukmin pada tahun 1290 M melahirkan teori musik yang dikenal di Eropa dengan nama Systematist Theory. Setelah ada teori tersebut maka terciptalah sistem perempat suara (Quarter Tone). Hingga saat ini teori tsb masih digunakan.

Dalam Musik Islam dikenal dua jenis musik yaitu vocal & Instrumental.
Musik vocal atau jenis nyanyian diantaranya :
Qasidah = curahan kalbu, Qit'a = fragment, Ghazal = love song dan yang populer pada saat itu adalah Mawal = song of beauty. Jenis nyanyian ini sampai juga ke Indonesia. Sedangkan yg dikenal di Eropa adalah jenis nyanyian Zajal & Muwashash

Musik Instrumental
Pada abad ke XIV Mesir telah memiliki Band Musik Militer dengan memainkan alat musik Buq (semacam terompet), Naqqara (musik pukul), Tambur dan Kasa (semacam simbal). Para ahli musik Islam menciptakan banyak alat musik seperti alat musik tiup Zamr, alat musik petik Al-Ud, Chang, Rabab dll. Para pencipta alat musik Islam yang terkenal yaitu : Al-Kindi (874 M), Al-Farabi (950 M), Al-Khawarizmi (1000 M), Ikhwan al-Safa (1000 M). alat alat musik yang mereka ciptakan tsb kini masih tersimpan di Museum di beberapa negara Eropa. Orang Islam pertama yg menulis tentang teori musik adalh Yunus Al-Khatib, dari dialah kebanyakan para penulis penulis musik Eropa mendapat keterangan2 berharga tentang musik yg indah yg berdasarkan pada ketuhanan.

Pada abad 13 M merupakan abad kesempurnaan musi Islam dan didirikanlah Sekolah Musik yg cukup terkenal oleh Safi al-Din Abd al-Mu'min. Teori teori musiknya yg sempurna dan termashur adalah buku Syarafiya dan buku Modus Music (Book of Musical Modes).

Pada tahun 1957, di Mesir, sebuah Orkes Symphony yang dipimpin oleh Muhammad Abdul Wahhab (seorang Profesor Musik Cairo) mengiringi paduan suara (koor) yang menyanyikan lagu berjudul "Allohu Akbar", dimana lagu ini memberikan semangat kepada para pejuang Mesir dalam melawan tentara Inggris, Perancis dan Israel dalam pertikaian Terusan Suez.

Semenjak perkembangan musik tumbuh dalam Islam, musik tidak pernah terlepas dari tuntunan Agama. Ia tumbuh dgn siraman dan pupuk ketuhanan yg terdapat dalam Islam. Dalam Islam musik yg tercipta adalah suatu yang indah dan untuk membahagiakan umat manusia. Dalam Islam penyanyi, penari maupun musisi memainkan musik atau bernyanyi dengan ilham dan tujuan suci, bahwa musik/lagu digunakan untuk manusia selain sebagai hiburan, musik/lagu juga mempunyai rasa dan pengertian keTuhanan didalamnya. Musik, lagu dan seni bisa menjadi surga sekaligus neraka yg diciptakan oleh manusia itu sendiri tergantung bagaimana manusia itu menempatkan dan dimana musik, lagu dan seni itu digunakan.

referensi:

Buku Kultur Islam, Dr. Oemar Amin Hoesin, 1964

Kamis, 01 Januari 2009

Syekh Nawawi Al-Bantani

Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (2): Karya dan Karomahnya
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Syekh Muhammad bin Umar Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, adalah ulama Indonesia bertaraf internasional, lahir di Kampung Pesisir, Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Serang, Banten, 1815. Sejak umur 15 tahun pergi ke Makkah dan tinggal di sana tepatnya daerah Syi’ab Ali, hingga wafatnya 1897, dan dimakamkan di Ma’la. Ketenaran beliau di Makkah membuatnya di juluki Sayyidul Ulama Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Daerah Hijaz adalah daerah yang sejak 1925 dinamai Saudi Arabia (setelah dikudeta oleh Keluarga Saud).


Diantara ulama Indonesia yang sempat belajar ke Beliau adalah Syaikhona Khalil Bangkalan dan Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kitab-kitab karangan beliau banyak yang diterbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirimkan manuscriptnya dan setelah itu tidak mempedulikan lagi bagaimana penerbit menyebarluaskan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya. Selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand, dan juga negara-negara di Timur Tengah. Begitu produktifnya beliau dalam menyusun kitab (semuanya dalam bahasa Arab) hingga orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Riyadlush Shalihin, dll. Namun demikian panggilan beliau adalah Syekh Nawawi bukan Imam Nawawi.

Jumlah kitab beliau yang terkenal dan banyak dipelajari ada sekitar 22 kitab. Beliau pernah membuat tafsir Al-Qur’an berjudul Mirah Labid yang berhasil membahas dengan rinci setiap ayat suci Al-Qur’an. Buku beliau tentang etika berumah tangga, berjudul Uqudul Lijain (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) telah menjadi bacaan wajib para mempelai yang akan segera menikah. Kitab Nihayatuz Zain sangat tuntas membahas berbagai masalah fiqih (syariat Islam). Sebuah kitab kecil tentang syariat Islam yang berjudul Sullam (Habib Abdullah bin Husein bin Tahir Ba’alawi), diberinya Syarah (penjelasan rinci) dengan judul baru Mirqatus Su’udit Tashdiq. Salah satu karya beliau dalam hal kitab hadits adalah Tanqihul Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith (Imam Suyuthi). Kitab Hadits lain yang sangat terkenal adalah Nashaihul Ibad, yang beberapa tahun yang lalu dibahas secara bergantian oleh Alm. KH Mudzakkir Ma’ruf dan KH Masrikhan (dari Masjid Jami Mojokerto) dan disiarkan berbagai radio swasta di Jawa Timur. Kitab itu adalah syarah dari kitabnya Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Di antara karomah beliau adalah, saat menulis syarah kitab Bidayatul Hidayah (karya Imam Ghozali), lampu minyak beliau padam, padahal saat itu sedang dalam perjalanan dengan sekedup onta (di jalan pun tetep menulis, tidak seperti kita, melamun atau tidur). Beliau berdoa, bila kitab ini dianggap penting dan bermanfaat buat kaum muslimin, mohon kepada Allah SWT memberikan sinar agar bisa melanjutkan menulis. Tiba-tiba jempol kaki beliau mengeluarkan api, bersinar terang, dan beliau meneruskan menulis syarah itu hingga selesai. Dan bekas api di jempol tadi membekas, hingga saat Pemerintah Hijaz memanggil beliau untuk dijadikan tentara (karena badan beliau tegap), ternyata beliau ditolak, karena adanya bekas api di jempol tadi.

Karomah yang lain, nampak saat beberapa tahun setelah beliau wafat, makamnya akan dibongkar oleh pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahadnya akan ditumpuki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la). Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur. Karena itu, bila pergi ke Makkah, Insya Allah kita akan bisa menemukan makam beliau di Pemakaman Umum Ma’la. Banyak juga kaum Muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Serang, Banten.